| M |
aha Suci Allah Rabb Semes-ta Alam yang telah mencip-takan satu sosok kecil dan mungil perawakannya. Satu sosok yang menyimpan berjuta-juta teka-teki dan problematika hidup. Sa-tu sosok yang bisa membuat suatu kepemimpinan itu kokoh layaknya gu-nung krakatau. Disisi lain sosok ini pu-la yang membuat kepemimpinan itu hancur terkoyak lusuh bagaikan se-onggok kain bekas yang sudah tak terpakai. Wanita, demikian lah nama lain dari sosok ini.
Ya, wanita…, wanita yang memi-liki perasaan nan halus dan super sen-sitive. Kehalusannya membuat sikap sentimental yang demikian sensitive. Wanita berperasaan halus, bahkan cenderung rapuh bak sehelai kapas. Pada banyak kesempatan, perasaan mereka lebih sering memberi nuansa dan warna. Dia akan menjadi peno-long bila jiwanya dihargai dan perasa-annya disayangi. Namun, dengan ce-pat pula dapat berubah menjadi pem-bunuh berdarah dingin jika hatinya di-lukai dan disakiti.
Wanita cenderung mengedepan-kan perasaan daripada akal. Karena itu tak jarang ia harus meneteskan air mata, karena air mata bersumber dari air mata kehalusan perasaan ketika harus bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nuraninya. Tangis-an bukan berarti kecengengan, tapi lebih menunjukkan betapa halus dan lembutnya perasaan yang dimiliki ka-rena wanita berfikir dengan hati dan meraba dengan fikirannya.
Sebab kehalusan perasaan itu pula seorang wanita berani menang-gung seperti apapun derita yang akan dihadapinya. Dia mampu memendam sendiri semua penderitaannya dari pa-da harus melihat orang yang dicintai-nya harus sakit. Adalah Fatimah az Zahra Radhiyallahu ‘Anha binti Mu-hammad merupakan buah hati dan kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Puteri dari pemim-pin para anbiya dan tuannya anak Adam. Beliau Radhiyallahu ‘Anha ha-rus mengarungi bahtera rumah tang-ganya dengan Ali bin Abi Thalib Ra-dhiyallahu ‘Anhu yang hanya seorang pembantu.
Puteri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini ha-rus mencari upah yang kelak ditukar dengan makanan untuk keluarganya. Fatimah Radhiyallahu ‘Anha menger-jakan hampir semua urusan rumah tangganya. Hingga tangannya harus terkelupas dan menjadi kapalan (ke-ras), karena haru s menggiling gan-dum dan memintal benang.
Sementara, sang suami tercinta Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sibuk menjual dirinya di medan jihad demi tegaknya panji-panji tauhid. Hal ini membuatnya tidak maksimal mem-bantu Fatimah dalam pekerjaan rumah maupun ma’isyah. Tapi bagi Fatimah Radhiyallahu ‘Anha semua itu tak jadi masalah, semua dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kecintaan ke-pada Allah Subhanahu wa Ta’alat, aya-handa, serta suami dan keluarganya tercinta. Itulah pesona yang ditebar-kan oleh Fatimah az Zahra Radhiyal-lahu ‘Anha yang memukau setiap ora-ng berakal dan berfikir.
Disamping mempesona, wanita juga identik dengan keindahan dan kecantikan. Kata cantik tidaklah harus beralamat kulit yang putih, tinggi se-mampai, tubuh yang indah, wajah yang rupawan hingga mengundang mata untuk meliriknya.
Bukankah yang demikian itu yang dinamakan cantik. Karena semua itu hanyalah melukiskan cantik secara fi-sik. Sedangkan syarat wanita dikata-kan ia cantik tidaklah cukup hanya de-ngan cantik fisik saja. Karena sudut pandang seseorang dengan yang lain-nya berbeda atau dengan kata lain cantik itu “relatif”.
Cantik yang sebenarnya adalah cantik yang diipancarkan dari dalam (inner beauty. Yaitu dari pribadi yang tulus, tunduk dan patuh kepada perin-tah Rabb Semesta Alam. Sementara cantik fisik merupakan sarana dari in-ner beauty.
Mungkin sering kita jumpai satu sosok yang berpenampilan biasa dan jauh dari titel “good looking”. Tapi ia adalah pribadi yang bisa menerima, bangga, serta bersyukur dengan se-gala kelebihan dan kekurangannya. Sehingga ia menjadi terlihat begitu mempesona. Kehadirannya senan-tiasa dinanti, karena selalu membawa kehangatan. Ia memilki satu kepriba-dian yang jelas dan tegas. Sikap me-nyenangkan selalu terpancar dari ha-tinya.
Seorang wanita shalihah semakin lama kian bertambah keindahannya dari perhiasan budi pekertinya. Se-mentara gadis jelita yang bejat kian hari semakin berkurang pesonanya. Begitulah orang yang hanya menge-depankan kecantikan fisik belaka. Sa-ngat berbeda jauh dengan muslimah sejati yang selalu cemerlang dengan inner beauty.
Wajah polos lagi suci dari kepal-suan polesan modern. Air mukanya jernih dan sejuk umpama telaga, ha-nya berbekal air wudhu. Bibir yang jauh dari kesensualan, namun terlihat menarik dan penuh pesona karena disibukkan dengan bertakbir, tahmid, tasbih, dan ketulusan yang selalu ter-selip ditiap ulas senyumnya. Tak sa-lah bila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan penekanan khsusus pada Dien-nya, agar selamat dunia dan akhirat. Sosok wanita sa-ngat mempesona, pesonanya adalah kecantikannya, dan kecantikannya ada-lah akhlak pribadinya. Itulah wanita yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar