Rabu, 07 Desember 2011

Saudariku… Pesonamu adalah kecantikan, dan Kecantikanmu adalah akhlaq pribadimu

M
aha Suci Allah Rabb Semes-ta Alam yang telah mencip-takan satu sosok kecil dan mungil perawakannya. Satu sosok yang menyimpan berjuta-juta teka-teki dan problematika hidup. Sa-tu sosok yang bisa membuat suatu kepemimpinan itu kokoh layaknya gu-nung krakatau. Disisi lain sosok ini pu-la yang membuat kepemimpinan itu hancur terkoyak lusuh bagaikan se-onggok kain bekas yang sudah tak terpakai. Wanita, demikian lah nama lain dari sosok ini.
Ya, wanita…, wanita yang memi-liki perasaan nan halus dan super sen-sitive. Kehalusannya membuat sikap sentimental yang demikian sensitive.  Wanita berperasaan halus, bahkan cenderung rapuh bak sehelai kapas. Pada banyak kesempatan, perasaan mereka lebih sering memberi nuansa dan warna. Dia akan menjadi peno-long bila jiwanya dihargai dan perasa-annya disayangi. Namun, dengan ce-pat pula dapat berubah menjadi pem-bunuh berdarah dingin jika hatinya di-lukai dan disakiti.
Wanita cenderung mengedepan-kan perasaan daripada akal. Karena itu tak jarang ia harus meneteskan air mata, karena air mata bersumber dari air mata kehalusan perasaan ketika harus bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nuraninya. Tangis-an bukan berarti kecengengan, tapi lebih menunjukkan betapa halus dan lembutnya perasaan yang dimiliki ka-rena wanita berfikir dengan hati dan meraba dengan fikirannya.
Sebab kehalusan perasaan itu pula seorang wanita berani menang-gung seperti apapun derita yang akan dihadapinya. Dia mampu memendam sendiri semua penderitaannya dari pa-da harus melihat orang yang dicintai-nya harus sakit. Adalah Fatimah az Zahra Radhiyallahu ‘Anha binti Mu-hammad merupakan buah hati dan kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Puteri dari pemim-pin para anbiya dan tuannya anak Adam. Beliau Radhiyallahu ‘Anha ha-rus mengarungi bahtera rumah tang-ganya dengan Ali bin Abi Thalib Ra-dhiyallahu ‘Anhu yang hanya seorang pembantu.
Puteri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini ha-rus mencari upah yang kelak ditukar dengan makanan untuk keluarganya. Fatimah Radhiyallahu ‘Anha menger-jakan hampir semua urusan rumah tangganya. Hingga tangannya harus terkelupas dan menjadi kapalan (ke-ras), karena haru s menggiling gan-dum dan memintal benang.
Sementara, sang suami tercinta Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sibuk menjual dirinya di medan jihad demi tegaknya panji-panji tauhid. Hal ini membuatnya tidak maksimal mem-bantu Fatimah dalam pekerjaan rumah maupun ma’isyah. Tapi bagi Fatimah Radhiyallahu ‘Anha semua itu tak jadi masalah, semua dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kecintaan ke-pada Allah Subhanahu wa Ta’alat, aya-handa, serta suami dan keluarganya tercinta. Itulah pesona yang ditebar-kan oleh Fatimah az Zahra Radhiyal-lahu ‘Anha yang memukau setiap ora-ng berakal dan berfikir.
Disamping mempesona, wanita juga identik dengan keindahan dan kecantikan. Kata cantik tidaklah harus beralamat kulit yang putih, tinggi se-mampai, tubuh yang indah, wajah yang rupawan hingga mengundang mata untuk meliriknya.
Bukankah yang demikian itu yang dinamakan cantik. Karena semua itu hanyalah melukiskan cantik secara fi-sik. Sedangkan syarat wanita dikata-kan ia cantik tidaklah cukup hanya de-ngan cantik fisik saja. Karena sudut pandang seseorang dengan yang lain-nya berbeda atau dengan kata lain cantik itu “relatif”.
Cantik yang sebenarnya adalah cantik yang diipancarkan dari dalam (inner beauty. Yaitu dari pribadi yang tulus, tunduk dan patuh kepada perin-tah Rabb Semesta Alam. Sementara cantik fisik merupakan sarana dari in-ner beauty.
Mungkin sering kita jumpai satu sosok yang berpenampilan biasa dan jauh dari titel “good looking”. Tapi ia adalah pribadi yang bisa menerima, bangga, serta bersyukur dengan se-gala kelebihan dan kekurangannya. Sehingga ia menjadi terlihat begitu mempesona. Kehadirannya senan-tiasa dinanti, karena selalu membawa kehangatan. Ia memilki satu kepriba-dian yang jelas dan tegas. Sikap me-nyenangkan selalu terpancar dari ha-tinya.
Seorang wanita shalihah semakin lama kian bertambah keindahannya dari perhiasan budi pekertinya. Se-mentara gadis jelita yang bejat kian hari semakin berkurang pesonanya. Begitulah orang yang hanya menge-depankan kecantikan fisik belaka. Sa-ngat berbeda jauh dengan muslimah sejati yang selalu cemerlang dengan inner beauty.
Wajah polos lagi suci dari kepal-suan polesan modern. Air mukanya jernih dan sejuk umpama telaga, ha-nya berbekal air wudhu. Bibir yang jauh dari kesensualan, namun terlihat menarik dan penuh pesona karena disibukkan dengan bertakbir, tahmid, tasbih, dan ketulusan yang selalu ter-selip ditiap ulas senyumnya. Tak sa-lah bila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan penekanan khsusus pada Dien-nya, agar selamat dunia dan akhirat. Sosok wanita sa-ngat mempesona, pesonanya adalah kecantikannya, dan kecantikannya ada-lah akhlak pribadinya. Itulah wanita yang sebenarnya.

Selasa, 06 Desember 2011

SONGSONGLAH SERUAN ALLAH!

Allah swt  berfirman:
} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَ لِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَ اعْلَمُوا
أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ قَلْبِهِ وَ أَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ {
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya
Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kamu akan dikumpulkan” [QS. al-Anfāl (8): 24]



Alangkah agung nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, ke-tika Dia menyempurnakan agama-Nya, me-lengkapi nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama-Nya.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepa-damu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. al-Mā’idah (5): 3)
Alangkah terhormatnya seorang manusia, saat kembali menuju Allah swt, menerima dakwah-Nya dan melihat jalan lurus yang ada di hadapannya. Itulah peran diri yang harus ditunaikan dalam kehidupannya.
Orang-orang yang mau menerima seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw, secara dzahir dan bathin, adalah orang-orang yang hidup, sekalipun jasad-jasad mereka telah mati, orang-orang kaya, sekalipun tak memiliki apa-apa, dan mereka adalah orang-orang mu-lia, sekalipun minim pendukung dan kelu-arga.
Selain mereka adalah orang-orang mati, sekalipun jasad-jasad mereka masih hidup.
Mereka mati tidak hidup, mereka tidak me-nyadari[QS. al-Nahl (16): 21]
Mereka adalah orang-orang miskin, seka-lipun tumpukan emas memenuhi saku-saku, gudang-gudang, ataupun rekening-rekening mereka. Mereka adalah orang yang diselimuti kehinaan, sekalipun berasal dari keturunan terhormat lagi mulia.
Karena itu, manusia yang paling sem-purna hidupnya adalah mereka yang pa-ling sigap menyambut seruan Allah swt dan Rasul-Nya saw. Mereka hidup dengan-nya dan menyampaikan pesan-pesannya. Setiap apa yang diserunya mengandung kehidupan. Barangsiapa kehilangan salah satu bagian dari peran dakwahnya, maka akan hilanglah satu bagian dari hidupnya. Mereka memiliki kehidupan sebesar per-kenan dirinya mau menerima Allah swt dan Rasul-Nya saw. Allah swt membe-rikan dakwah mulia ini untuk kaum muk-minin, menghimpun mereka dalam pera-saan iman, menyeru mereka dengan nama iman dan mengingatkan mereka tentang kandungan iman. Dia panggil mereka dengan seruan iman, agar mereka siap sedia menyambut dakwah-Nya dengan sungguh-sungguh dan perhatian, siaga dan sepenuh kekuatan. Itulah sikap seo-rang mukmin: Menyongsong perintah-perintah Allah swt dan seruan dakwah-Nya dengan penuh kekokohan jiwa dan kemantapan hati.

SOAL: Apakah hekekat Islam yang sesungguhnya?

al-Islam (الإسلام) yang berasal dari akar kata (سلم), dalam bahasa Arab setidaknya mengandung tiga makna, yaitu:
        ·        ا لخلوص و التعري من الآفات الظاهرة أو الباطنة (Bebas dan bersih dari penyakit lahir dan bathin).
        ·        الصلح و الأمان (Damai dan tentram).
        ·        الطاعة و الإذعان (Ta`at dan patuh).
(h al-Dīn al-Islāmiy oleh ‘Afīf Abd al-Fattāh Thabbarah  hal. 13)

 

JAWAB:

Orang kafir, Yahudi maupun Nashrani, diwajibkan kepada mereka untuk memeluk agama Islam, karena Allah swt berfirman:

} قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَ يُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَ رَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ كَلِمَاتِهِ وَ اتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ {
“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang me-matikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang ber-iman kepada Allah dan kepada kalimat-kali-mat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” [QS. al-A’rāf (7): 158]
Oleh karena itu, wajib bagi seluruh ummat manusia untuk beriman kepada Rasulullah saw. Namun, sebagai agama yang penuh rahmat dan sesuai dengan hikmah Allah swt, diperbo-lehkan bagi non Muslim untuk tetap meme-luk agama mereka, asalkan mereka tunduk patuh terhadap hukum-hukum Islam.
Dalam Shahih Muslim, dari hadits Buray-dah disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw mengangkat seorang pemimpin, baik untuk pasukan perang maupun pasukan pengintai, maka beliau memerintahkannya untuk senan-tiasa bertaqwa kepada Allah swt, dan meme-rintahkan kepada kaum muslimin lainnya agar selalu berbuat baik, seraya bersabda:
(( اُدْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثَةِ خِصَالٍ أَوْ خِلاَلٍ، فَأَيَّتَهُنَّ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَ كُفَّ عَنْهُمْ ))
“Ajaklah mereka kepada tiga hal, mana saja yang mereka pilih, maka terimalah pilihan tersebut dan janganlah meme-rangi mereka” (HR. Muslim)

Salah satu dari tiga tawaran tersebut adalah membayar jizyah, dengan tetap memeluk agamanya.


(Fatāwā Arkān al-Islām oleh al-Syaykh Muhammad bin Shālih al-‘Utsaymīn hal. 39, dihimpun oleh al-Syaykh
Fahd bin Nāshir al-Sulaymān,
Dār al-Tsurayyā: 1421 H)

SOAL: Apakah orang kafir diwajibkan memeluk agama Islam?

JAWAB:

Orang kafir, Yahudi maupun Nashrani, diwajibkan kepada mereka untuk memeluk agama Islam, karena Allah swt berfirman:

} قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَ يُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَ رَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ كَلِمَاتِهِ وَ اتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ {
“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang me-matikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang ber-iman kepada Allah dan kepada kalimat-kali-mat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” [QS. al-A’rāf (7): 158]
Oleh karena itu, wajib bagi seluruh ummat manusia untuk beriman kepada Rasulullah saw. Namun, sebagai agama yang penuh rahmat dan sesuai dengan hikmah Allah swt, diperbo-lehkan bagi non Muslim untuk tetap meme-luk agama mereka, asalkan mereka tunduk patuh terhadap hukum-hukum Islam.
Dalam Shahih Muslim, dari hadits Buray-dah disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw mengangkat seorang pemimpin, baik untuk pasukan perang maupun pasukan pengintai, maka beliau memerintahkannya untuk senan-tiasa bertaqwa kepada Allah swt, dan meme-rintahkan kepada kaum muslimin lainnya agar selalu berbuat baik, seraya bersabda:
(( اُدْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثَةِ خِصَالٍ أَوْ خِلاَلٍ، فَأَيَّتَهُنَّ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَ كُفَّ عَنْهُمْ ))
“Ajaklah mereka kepada tiga hal, mana saja yang mereka pilih, maka terimalah pilihan tersebut dan janganlah meme-rangi mereka” (HR. Muslim)

Salah satu dari tiga tawaran tersebut adalah membayar jizyah, dengan tetap memeluk agamanya.


(Fatāwā Arkān al-Islām oleh al-Syaykh Muhammad bin Shālih al-‘Utsaymīn hal. 39, dihimpun oleh al-Syaykh
Fahd bin Nāshir al-Sulaymān,
Dār al-Tsurayyā: 1421 H)